Review: Detective Conan Crimson Love Letter, Antara Kasus, Cinta, dan Karuta

Kali ini, saya akan mencoba me-review film terbaru dari anime Detective Conan The Crimson Love Letter yang memiliki judul asli Meitantei Conan Kara Kurenai No Rabu Retaa, dan tayang perdana di Jepang pada 15 April 2017 lalu.

Film Detective Conan ke-21 yang berlatarkan Osaka dan Kyoto ini bermula dari serangan terror bom ke stasiun TV Nichiuri di mana Conan dan kawan-kawan sedang melihat syuting acara turnamen permainan kartu tradisional Jepang, Hyakunin Isshu Karuta. Setelah lepas dari bahaya yang mengancam jiwa mereka, Conan dan Heiji malah terlibat dengan sebuah kasus pembunuhan berantai yang semuanya terkait dengan permainan karuta. Sementara itu, Kazuha terpaksa mengikuti sebuah turnamen karuta karena taruhan memperebutkan Heiji yang dilontarkan oleh Momiji Ooka, seorang pemain karuta handal yang mengaku sebagai tunangan Heiji. Bagaimana kelanjutan kisah kasus pembunuhan yang diselingi kisah cinta ini? Tonton sendiri ya, hehe.

Pemandangan indah berbagai tempat yang tergambar dengan baik, terutama pemandangan Kyoto di tengah musim gugur, dengan dedaunan berwarna merah keemasannya adalah salah satu nilai plus film anime ini. Selain itu, animasi film Detective Conan kali ini terasa kental oleh budaya tradisional, mengingat permainan karuta yang digunakan sebagai tema utama film ini. Hal ini terutama terlihat dari digunakannya tulisan kanji dengan font menyerupai kaligrafi Jepang untuk informasi tempat yang sesekali muncul dalam film anime ini. Salah satu hal lain yang berbeda dengan kebanyakan film Detective Conan adalah tidak adanya perkenalan alat-alat di prolog film, dimunculkannya versi manga dari karakter-karakter dan adegan yang muncul pada perkenalan karakter, serta banyaknya penggambaran adegan di tengah kartu karuta yang sedang melayang, terutama untuk adegan permainan karuta.

Mengenai cerita sendiri, film animasi ini menceritakan cerita misteri yang cukup menarik dengan adegan laga yang tensinya cukup tinggi namun diselingi dengan kisah Kazuha dan turnamen Karuta yang tensinya sedikit lebih santai, menjadikan film ini berjalan dengan pace yang pas. Menurut penulis, permasalahan utama film ini terletak pada tidak adanya penjelasan mengenai permainan hyakunin isshu karuta, karena karuta sendiri di Jepang adalah permainan umum, dan hyakunin isshu karuta mempunyai pemain profesional, dan juga gelar Meijin sebagai gelar tertingginya. Hal ini mungkin akan membingungkan bagi mereka yang tidak mengerti sama sekali mengenai permainan ini. Nilai plus film ini bagi penulis adalah, karena latar belakang film ini adalah di Osaka dan Kyoto, sebagian besar dialog diucapkan dengan dialek Osaka dan dialek Kyoto, bagi penulis yang memegang prinsip bahwa cewek yang berbicara dalam dialek Osaka (atau dialek-dialek unik Jepang lainnya) akan bertambah ke-kawaii-annya beribu-ribu kali lipat, film anime ini sangat menarik untuk ditonton dan didengar, apalagi yang berbicara dengan dialek tersebut adalah gadis manis seperti Kazuha Toyama atau Momiji Ooka.

Akhir kata, bagi kalian para penggemar Detective Conan, atau kalian yang tertarik dengan Karuta, juga kalian yang tertarik dengan dialek Osaka dan Kyoto, boleh banget menonton anime ini. Setelah menonton, jangan dulu meninggalkan bangku kalian saat credit film berjalan ya, karena di ada adegan after-credit yang penting untuk kisah cinta di film anime ini.


Source: Japanese Station

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s